April 07, 2020
Ini adalah pertama kalinya aku menuliskan tugas dari omjay dari kemarin aku ingin sekali seperti teman-teman yang lainnya, bisa setor tugas setelah menyimak materi, mungkin karena keterbatasanku yang gaptek untuk belajar membuat blog dan menulis di blog membutuhkan waktu dan pikiran yang lumayan ekstra, maklum sudah emak-emak. Tapi walaupun emak-emak aku nggak mau kalah sama dengan yang muda, ingin belajar walaupun sambil merangkak penuh perjuangan dan selalu SIBUK yang dijadikan alasan. Walaupun masih diliputi rasa malu-malu dan minder akhirnya tetap aku lanjutkan tulisanku ini.
Seperti malam sebelumnya, tadi malam aku juga mengikuti agenda belajar menulis online bersama omjay, materi malam ini adalah menulis tanpa ide yang di bawakan oleh Bapak Budiman Hakim. Beliau mengajarkan metode menulis cerpenting yaitu metode menuliskan peristiwa-peristiwa REMEH atau SEPELE yang ada disekitar kita.Ternyata cerpenting itu singkatan dari cerita pendek gak penting..
Dalam materinya pak Budiman memaparkan bahwa untuk membuat cerpenting ada 2 hal yang harus disiapkan yaitu 1) memanfaatkan emosi dan 2) memancing dengan 6 benda.
Supaya tulisan kita bisa mengalir dan menarik munculkan emosi pembaca dari tulisan kita dengan membumbui. Membumbui bisa dilakukan dengan memanfaatkan indera-indera yang kita punya dan bisa menarik benang merah dengan ke enam benda yang sudah kita siapkan sebagai umpan.
Dengan penglihatan, pendengaran, penciuman, sentuhan dan rasa kita komunikasikan dengan ke enam benda yang sudah kita siapkan sebagai pancing nanti akan terciptalah sebuah karya tulisan yang akan mengalir dengan begitu saja.
Dari teori pak Budiman Hakim di sini saya ingin mempraktikkan membuat tulisan tanpa ide .
JAGOANKU
6 benda untuk memancing tulisan:
1. Meja makan
2. Mangkuk
3. Lauk
4. Alat Pel
5. Kerupuk
6. Pisau
Brakkkkkk.....!!!!! Suara itu terdengar dari arah meja makan, kudengar teriakan anak gadisku yang kini duduk di kelas 6 SD, " mamah.... ini mas Dito numpahin nasi dan masakan mamah...."
anak bujangkupun yang kini duduk di kelas 12 tak mau kalah kenceng dari teriakan adiknya, " nggak maaaah..... Icha yang salah".
Akupun pura-pura tak dengar teriakan itu, walaupun jarak kami hanya satu meter cuma terhalang oleh tembok. Begitulah suasana rumahku jika kedua anakku ada dirumah. Yang perempuan dikit-dikit teriak dan yang laki-laki dikit-dikit bikin adiknya teriak, jika aku marahi mereka, mereka malah saling membela lawannya, katanya cuma bercanda, tapi maaak.... kepala ini serasa nyut-nyutan kalau komedi mereka sudah mulai tayang. Jika aku curhat ke suami atas kejadian ini pasti komen suamiku, ya sudahlah mah, namaya juga anak-anak, kalau sepi ya gausah ada anak, emang mamah mau rumah kita gak ada teriakan anak seperti di rumah bu de Sri?
Bu de Sri adalah kakakku yang sampai sekarang belum dikaruniai anak.
Mereka berdua masih adu mulut saling menyalahkan dan mencari penyebabnya kenapa sampai makanan-makanan tadi tumpah. Penasaran aja aku, ingin kulihat sebenarnya apa yang tumpah, ternyata.... Astaghfirullahaldziiiiim....ternyata apa yang saya masak dengan bersusah payah dari pagi, nyiapin buat makan pagi dan siang mereka, baru kemakan satu, kini tinggal mangkuk yang telungkup diatas lantai,. Sambil kutarik nafas panjang-panjang aku bilang, " sudah... mamah tidak nanya kenapa masakan mamah sampai tumpah, dan juga gak ingin tau siapa penyebabnya, mamah cuma ingin kalian berdua beresin mangkuk-mangkuk itu dan bersihin lantainya sampai bersih seperti sebelumnya, gak ada yang lengket atau kotoran yg tertinggal di lantai" dan secara serentak seperti dikasih aba-aba mereka menjawab bersamaan, " ya mah" dengan rasa takut dan tertangkap olehku anak gadisku sedih dan merasa ketakutan. Anak gadisku jauh dengan anak bujangku, dia sangat sensi, omongan dengan nada dikit tinggi saja mata sudah berkaca-kaca. Anak bujangku seperti anak pantai yang harus diteriakin dan diulang-ulang setiap ada perlu dengannya. Setelah mereka beresin lantai, anak gadisku langsung masuk kamar sambil bilang, " Mah, Icha boleh masuk kamar lagi gak? mau buka google classroom lagi mah.... sudah bersih kok mah lantainya, coba mamah cek aja sendiri".
Aku berjalan ke ruang makan, kupegang-pegang lantai untuk mastiin bener bersih atau nggak, dan ternyata lumayanlah kerjaan mereka, lalu aku ijinin anak gadisku untuk masuk kamar. Anak bujangku yang mau sarapan bertanya, " Mah.... Dito mau makan, makan pake apa mah? Ini aja ya mah pake roti"
sambil dengan nada agak tinggi akupun menjawab, " sudah resiko, itu masih ada sayur, makan aja pake sayur, kan semua lauk sudah kebuang, hari ini kalo belum makan nasi Dito gak boleh makan roti" Dia terdiam sejenak mungkin sambil mikir, emang enak ya makan tanpa lauk. Dia bilang, "mamah ceplokin telor aja ya mah!' Saya bilang, "gak mau mamah capek tadi sudah masak sekarang mau ngoreksi. tuh... tugas mamah numpuk"
Akhirnya dengan terpaksa anak bujangku mengambil nasi dan makan dengan tumis kacang. Kulirik dia, makan nasi diaduk-aduk setelah lama baru nyuap ke mulutnya, dikunyahnya pun lama, tidak seperti ketika makan dengan ayam goreng plus sambel asam manis kesukaannya, makan dengan penuh lahab dan semangat. Matanya berputar-putar seolah menyapa benda-benda yang ada disekelilingnya dan berhenti di salah satu stoples koleksiku yang terpajang dimeja makan, ada senyuman dari bibirnya sambil mengangkat setoples itu, ternyata krupuk yang diambilnya. Kulihat dia mengambil isi stoples itu lalu menyuap nasi dan sayur ke mulutnya disusul kerupuk begitu seterusnya sampai akhirnya habislah nasi yang ada dipiringnya. Setelah habis, bujangkupun mencuci piringnya seperti biasa yang berlaku di keluarga kami, setiap habis makan, piring dan yang lainnya harus langsung dicuci sendiri, karena kami tidak ada ART dan ingin hidup bersih dan rapi.Setelah selesai mencuci piring kudekati bujangku, dengan suara lirih setengah menginterogasi aku bertanya, " dito.... jawab dengan jujur, kenapa tadi sampai lauk tumpah smua ke lantai?'
Bujangkupun menjawab, "mah.... tadi itu icha lagi motong keju, pisaunya ada dipinggir meja banget, mau jatuh kesenggol icha, Dito ngeri lihat lancipnya pisau itu, jika sampai jatuh dan nancap ke kaki icha, spontan aja mangkuk yang isi lauk itu Dito lepas, karena Dito mau nangkep pisau yang jatuh, ya.... akhirnya pisau ketangkep dan mangkukpun lepas dari tangan Dito, tumpah deh smuanya..."
Sambil kupeluk erat anak bujangku, aku berkata, " kamu jagoan mamah, makasih ya sudah menyelamatkan Icha"...
Saya sadar tulisan ini jauh dari sempurna, tapi hal ini tidak membuat aku untuk berhenti disini, maju terus pantang mundur. mohon masukannya dari teman-teman smua.


